[Page Flow; An Original Story] Sebelum Ambai Pulang
Sakelar dalam ruangan mendapat dorongan dari satu ruas jari yang lentik. Sepersekian detik kemudian, ruangan kembali terlihat jelas di pukul sebelas malam. Jika perlu mendeskripsikan ruangan yang terang benderang itu, beberapa helai baju berserakan di dekat lemari. Kemudian, brush dan loose powder berada di dekatku. Tidak lupa pula lantai yang disemai oleh rambut-rambut yang rontok dengan ikhlas. Menurutku, ruangan ini sudah seperti kebun rambut. Mungkin akan panen sehari lagi.
Helaan napas panjang terdengar, diiringi kaki yang diseret.
“Capek banget!” keluhnya.
Siapalah aku yang bisa menghakimi. Melihatnya seperti sekarang kadang terlalu menyedihkan. Ah, padahal aku bilang tidak ingin menghakimi. Maafkan aku, ya, Ambai.
Wanita yang tahun depan akan menutup kepala duanya itu bernama Ambai. Aku kurang tahu siapa nama lengkapnya. Tanpa mengetahui nama lengkapnya pun, sepertinya wanita itu tidak keberatan. Aku sendiri baru mengenalnya dua tahun belakangan.
Perjumpaan pertama kami terjadi di indekos sebelumnya. Sejujurnya, aku sangat berterima kasih karena ia secepat kilat ingin bertemu denganku. Sebenarnya aku tidak begitu yakin, tetapi anggap saja begitu. Bagaimanapun, Ambai telah menyelamatkanku dari gudang penuh tumpukan barang yang tidak kukenali.
Ting!
Layar ponsel Ambai menyapa. Jika kurang siaga, aku mungkin tidak akan mendengar apa pun. Ambai memang suka begitu. Bunyi notifikasi ponselnya selalu berada di antara ada dan tiada. Alarm pagi harinya bahkan kadang disebut berbisik pun masih terasa kurang tepat. Pantas saja ia sering kebablasan.
Aku melihat matanya seolah ingin menelan layar ponselnya. Bertaruh denganku, itu pasti pesan dari pacarnya yang bahkan belum pernah kulihat. Perempuan itu tidak pacaran virtual, kan?
Ambai melihatku. Kami bertatapan, kemudian ia menatapku lekat-lekat sambil merapikan anak rambutnya yang tidak beraturan. Demi apa pun, rambut itu sudah harus bertemu sampo malam ini.
Setelah tersenyum, memamerkan gigi beserta gusinya, lalu mengedipkan mata dengan gesit, ia kembali menatap layar ponselnya yang kini sedang menampilkan sebuah panggilan video.
“Hai!” sapa Ambai dengan begitu antusias. Menurutku, ia tidak terlihat semenyedihkan saat pertama datang tadi. Wow.
Balasan suara bariton terdengar. Namun, aku malas memperhatikan kelanjutannya karena pasti seperti yang sudah-sudah. Ambai akan terjaga hingga sejam kemudian untuk menceritakan harinya yang berdesakan di komuter, pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya, juga alasan kenapa Ayam Gepuk Pak Gembus di dekat kantornya tidak enak dan nasinya terlalu lembek.
—
Radarku berkata ada seseorang di dekatku. Ketika tersadar, ternyata Ambai kembali menatapku lekat-lekat di pukul dua dini hari.
“Bercandaanku berlebihan, ya?” Ambai melontarkan pertanyaan.
Jelas aku bingung harus menjawab apa. Aku tidak mengamati tadi.
“Dia ngambek, loh. Aduh, gimana, ya?” tanyanya lagi.
Sepi. Tidak ada tanggapan apa pun untuk pertanyaan beruntun Ambai.
Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat kalut yang Ambai bawa di wajahnya. Namun sayangnya, aku tidak bisa berbuat banyak selain menemaninya dalam kesunyian pukul dua dini hari ini.
Ambai kemudian beranjak.
“Ah, udahlah. Bodo.”
Ia mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.
Kali ini aku tetap terjaga karena tidak ingin melewatkan momen apa pun lagi. Padahal biasanya obrolan mereka berjalan lancar dan sering diselingi jahilan dari keduanya. Aneh sekali melihat Ambai sekalut ini.
Tidak lama dari lamunanku yang mulai bercabang ke sana kemari, Ambai kembali menatapku lekat ketika urutan skincare-nya selesai.
Ia menghela napas sambil mengeringkan rambut. Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain, entah sudah berjalan sampai ke mana, yang jelas rasanya ia tidak benar-benar berada di ruangan ini.
Beberapa hari berlalu. Tidak ada lagi bunyi notifikasi yang masuk ke ponselnya. Ini benar-benar masalah serius!
Ia mulai pulang lebih larut. Pernah juga Ambai tidak memasak dan tidak memesan apa pun dari luar. Melihatnya seperti itu terasa seperti besok akan kiamat saja. Padahal perempuan yang kukenal ini biasanya tidak pernah cukup makan hanya satu porsi, loh. Apa memang permasalahan hubungan serumit ini, ya?
Sekarang Ambai tengah rebahan di atas karpet karena ia belum mengganti bajunya. Matanya fokus menelusuri video-video singkat. Aku khawatir rentang perhatian Ambai akan menyusut sampai-sampai durasi tiga puluh menit terasa seperti hukuman penjara.
Suara tawanya terdengar sesekali. Kadang aku bersyukur karena masih ada hal yang membuatnya tertawa kecil setelah hari yang panjang. Apalagi jika mencuri dengar dari berita yang sesekali muncul dari ponselnya, sekarang tengah memasuki musim kemarau. Perempuan itu, kan, tidak suka cuaca panas.
Setelah tawanya mereda, tiba-tiba aku mendengar isakan.
Awalnya aku ragu. Namun semakin lama, isakan itu menjadi semakin besar dan terdengar seperti lolongan permintaan tolong yang dipendam begitu dalam.
—
Pagi di hari Selasa, Ambai kembali menatapku sambil mengaplikasikan riasan wajah seadanya. Beberapa hari ini ia fokus menutupi kantong mata yang menghitam. Namun hari ini jelas ia tidak bisa menyembunyikan jejak tangisannya yang begitu lama semalam.
Selesai membubuhkan lip cream ke bibirnya, Ambai kemudian menyipitkan mata sambil menarik kedua sudut bibirnya sejauh mungkin. Aku melihat hal ini mulai menjadi rutinitas baru baginya.
“Satu hari,” ucap Ambai.
“Ayo bertahan satu hari lagi,” lanjutnya seperti mantra.
Jika bisa, aku ingin menguatkannya juga. Namun sekali lagi, aku hanya bisa memantulkan keadaannya yang sebenarnya.
Ambai melangkah gusar menuju pintu depan. Aku sudah jarang melihatnya bersenandung pada pagi hari. Semoga perjalanan ke kantor hari ini tidak menyebalkan dan pekerjaannya bisa sedikit lebih lembut padanya.
—
Hari ini Ambai pulang lebih cepat, dan aku melihat seseorang ikut masuk ke ruangan ini.
“Maafin ya, agak berantakan,” ujar Ambai malu-malu.
Orang yang baru masuk itu melihat sekeliling.
“Aelah, santai aja!”
Aku tebak ini teman kantor Ambai. Sejujurnya, aku jarang sekali melihat Ambai membawa seseorang ke sini.
Namun, aku sedikit lega karena ada seseorang yang bisa menemaninya sekarang.
Sehabis sesi memasak dan makan, mereka berdua terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing. Jika boleh kusimpulkan, menurutku ini teman dekat Ambai di kantor. Humor mereka terlalu nyambung. Malah, kalau aku boleh lebih jujur tanpa filter, humor mereka terlalu aneh buatku.
“Bai.”
Ambai menoleh tanpa bersuara.
Melihat sapaannya direspons, teman Ambai melanjutkan, “Kamu oke, kan?”
Ambai kemudian tertawa kikuk.
“Eh, out of nowhere banget, Mbak Raya.”
Perempuan yang dipanggil Mbak Raya itu memperbaiki posisi duduknya.
“Aku khawatir soalnya kamu sempat kena tegur.”
Aku ikut menunggu Ambai menjawab, tetapi yang kudapat malah tawa dari Ambai.
Mbak Raya bingung. Aku pun ikut bingung.
“Aman aja, Mbak. Aku mah anaknya chill.”
“Tapi kamu di-call out pas meeting,” tambah Mbak Raya.
Hening.
“Kalau kamu perlu tempat curhat, sumpah, Bai, kamu bisa banget ke aku.”
Ambai berdeham.
“Makasih, Mbak Raya. Tapi aku beneran nggak apa-apa, loh.”
Kalimat itu ditutup dengan sebuah senyum.
“Aku anaknya kebal, jadi Mbak Raya nggak perlu khawatirin aku.”
Mbak Raya kemudian tidak memaksakan apa pun lagi.
Dari pembicaraan itu, aku hanya menatap Ambai. Jelas sekali senyum yang ia berikan terlalu dibuat-buat. Selama mengenalnya dua tahun ini, jelas aku tidak bisa ia bohongi.
Pukul sepuluh malam, Mbak Raya pamit pulang, menyisakan Ambai sendirian di ruangan ini. Sebenarnya aku pun ada, tetapi ya tidak bisa benar-benar dihitung juga.
Lampu kamar kembali dibuat remang. Beberapa piring kotor masih bertengger di bak cuci. Sepertinya tidak akan disentuh Ambai sampai besok.
Malam ini terasa lebih hening setelah kepergian Mbak Raya. Aku kembali melihat wajah datar Ambai yang terasa tidak berjiwa itu. Malam ini ia hanya mengganti bajunya tanpa mengambil handuk menuju kamar mandi.
Aku memakluminya. Mungkin energinya memang sudah habis.
Ambai kemudian berbaring di kasurnya. Ia menatap lekat langit-langit kamar. Aku sendiri tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya saat ini. Aku hanya bisa menebak-nebak, tetapi tidak ingin sok tahu soal Ambai sekarang.
“Aku banyak kurangnya, ya?”
Ambai merentangkan tangannya ke udara, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat.
“Target mingguanku nggak nutup lagi.”
Helaan napas Ambai terdengar begitu gusar malam ini.
Aku frustrasi sekarang. Kenapa perempuan ini tidak sejujur ini saat bersama Mbak Raya tadi? Wah, aku serasa gila. Bahkan jika aku yang mendengarnya, tetap tidak akan ada timbalan apa pun yang bisa menenangkannya.
“Kayaknya aku nggak cocok, ya, di bagian sales.”
Malam ini Ambai banyak berbicara dengan dirinya sendiri. Aku ikut mendengarkan dalam diam, dalam ketidaktahuannya bahwa aku berada di sini untuk menemaninya.
—
Akhir pekan tiba.
Tidak seperti biasanya yang sudah rapi sejak pagi untuk menjelajah tempat-tempat baru, Ambai hanya berdiam di bawah selimut. Sesekali ia menatap layar ponselnya dengan tatapan yang tidak kusukai, lalu kembali tidur.
Akhirnya Ambai sama sekali tidak makan pagi itu. Ia baru bangun pukul delapan malam dan buru-buru menuju kamar mandi. Ruangan ini masih gelap. Ambai belum menyalakan lampu apa pun selain lampu kamar mandi.
Ia kembali sambil memegangi kepalanya. Ya, siapa yang menyuruh tidur selama itu? Bisa-bisa orang mengira ia koala spesies baru dari Indonesia.
Jika aku bisa berkomentar, kulkas Ambai mungkin sudah berisi makanan kedaluwarsa. Namun perempuan itu terlalu lekat dengan kasurnya untuk peduli. Sekarang rutinitasnya hanya bekerja dan pulang untuk tidur.
—
Sore ini, Ambai pulang dengan beberapa paper bag di tangannya. Tumben sekali ia berbelanja sekarang. Menurutku, mungkin itu tindakan yang cukup baik untuk kesehatan mentalnya.
“Makasih ya kadonya, Mbak Raya,” seru Ambai sambil mengetik.
Oh?
Tapi sepertinya hari ini bukan hari ulang tahun Ambai.
“Terima kasih kadonya, tim sales,” ucap Ambai lagi sambil mengetik.
Ah, sekarang pekerjaan Ambai sudah lebih baik.
Kemudian Ambai berjalan menuju kulkasnya. Aku kira ia akan memasak hari ini. Namun ia hanya memotret kulkasnya, kemudian memotret kasur, lemari, dan terakhir berjalan menuju tempatku.
Ia melihatku sebentar. Atau mungkin bisa dikatakan ia sedang melihat dirinya sendiri.
“Emang baiknya seperti ini.”
Kemudian aku pun ikut diabadikan dalam ponselnya.
Beberapa hari berlalu dan aku tidak mendapati Ambai pergi ke kantornya. Sebaliknya, aku melihatnya melipat beberapa kardus berukuran besar.
Ambai masih jarang makan dan sudah tidak memasak lagi. Kemarin kulkasnya sudah pergi. Entah ke mana, aku pun tidak tahu. Kantong matanya semakin mengkhawatirkan. Mungkin karena sekarang ia menerapkan jadwal hidup kelelawar.
Aku bingung apa yang bisa kulakukan untuknya.
Namun jawabannya sudah jelas.
Tidak ada.
Aku mulai menyadari satu hal.
Ambai sedang mengemasi barang-barangnya.
Kulkas itu bukan entah pergi ke mana, melainkan sudah dijual. Lemari pun sudah tidak ada lagi. Beberapa barang telah masuk ke dalam kardus-kardus besar.
Banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan.
Apa aku akan dijual?
Apakah aku sebentar lagi akan pergi?
Apa aku...
tidak akan melihat Ambai lagi?
Perempuan itu kembali sibuk memindahkan barang-barang kecil ke dalam kardus. Betapa irinya aku, karena jelas aku tidak mungkin muat di dalam kardus-kardus itu.
Jelas aku akan ditinggalkan.
Ambai tidak banyak berbicara sekarang, jadi aku tidak tahu bagaimana jalan pikirannya.
Padahal aku sangat ingin tahu ke mana ia akan pergi.
Apakah ia mendapat pekerjaan yang lebih baik?
Jika bisa, aku ingin bergerak sekarang. Aku ingin ikut dipindahkan bersamanya. Aku ingin pergi ke mana pun ia pergi.
Bukankah pada pindahan sebelumnya ia tetap membawaku?
Aku barang yang cukup penting, bukan?
Setiap hari aku selalu merasa waswas, menebak kapan hari perpisahanku dengan Ambai tiba.
Aku masih ingat pertama kali melihat Ambai. Perempuan yang ceria dan sering berpose di depanku itu adalah teman pertamaku setelah keluar dari gudang.
Gudang pengrajin cermin.
Hari-hari di gudang begitu gelap. Hanya ada beberapa pengrajin yang berlalu-lalang untuk mengangkut cermin. Aku sangat menunggu hari giliranku datang.
Dan bertemu Ambai sebagai temanku adalah hal yang paling kusyukuri saat itu.
“Mas udah di depan, ya? Tunggu sebentar.”
Ambai menjawab panggilan suara dari ponselnya.
Perempuan itu bergegas keluar dan beberapa menit kemudian seorang pria masuk ke ruangan ini bersamanya.
Lengan Ambai mengayun ke udara, lalu berhenti ke arahku.
“Yang perlu diangkut ini ya, Mas.”
Seseorang yang tidak kuketahui namanya berjalan mendekat.
Ah.
Jadi ini hari perpisahanku.
“Halo, Mbak Raya,” Ambai kembali berbicara melalui ponselnya. “Jasa angkutnya udah datang. Makasih banyak ya, Mbak, mau beli cermin aku.”
“Tolong dirawat ya, Mbak. Soalnya cerminnya nemenin aku dari awal merantau, hehe.”
Sejujurnya, jika bisa menangis, aku ingin menangis.
“Iya, Mbak. Aku mau jagain orang tua aku. Mbak Raya sehat-sehat ya.”
Lelaki yang menurutku masih berusia akhir dua puluhan itu sudah selesai melilitkan bubble wrap ke seluruh tubuhku.
Penglihatanku untuk melihat Ambai terakhir kalinya menjadi lebih buram.
Namun aku masih bisa melihat senyumnya.
Samar.
Tangannya menyentuhku yang telah berlapis pelindung.
“Mas, nanti tolong hati-hati ya bawanya. Takut pecah.”
Seandainya Ambai tahu, aku lebih ingin ikut menemaninya menjaga orang tuanya.
Lelaki itu menjawab dengan anggukan, lalu mulai mengangkatku.
Selamat tinggal, Ambai.
Semoga ke depannya hanya ada hal-hal baik yang selalu menyertaimu.
All Right Reserved © S.Park (Juni 2026)


Ambai 😦😦
BalasHapussuka banget kak sama cerita nya... kerasa personal gituuu, mungkin karena pendekatan karakter Ambai di cerita ini atau memang kita pernah merasakan hal serupa tapi belum waktunya "pulang" aja ya 🤯